بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ<== ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ (١) خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ عَلَقٍ (٢) ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ (٣) ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ (٤) عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ (٥) كَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ (٦) أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ (٧) إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجۡعَىٰٓ (٨) أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِى يَنۡهَىٰ (٩) عَبۡدًا إِذَا صَلَّىٰٓ (١٠) أَرَءَيۡتَ إِن كَانَ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ (١١) أَوۡ أَمَرَ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ (١٢) أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰٓ (١٣) أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ (١٤) كَلَّا لَٮِٕن لَّمۡ يَنتَهِ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ (١٥) نَاصِيَةٍ۬ كَـٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍ۬ (١٦) فَلۡيَدۡعُ نَادِيَهُ ۥ (١٧) سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ (١٨) كَلَّا لَا تُطِعۡهُ وَٱسۡجُدۡ وَٱقۡتَرِب ۩ (١٩)

Site Info

Peso UNWIKU
apa (Diisi Jenis Pekerjaan), di mana (Kota/Daerah)
Showing posts with label Sahabat Rasulullah. Show all posts
Showing posts with label Sahabat Rasulullah. Show all posts

Sunday, May 2, 2010

Abu Ubaidah Amir bin Abdillah bin Al Jarrah

Dia adalah Abu Ubaidah Amir bin Abdillah bin Al Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al Harits bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah. Dia menyatakan keislamannya bersama-sama dengan Utsman bin Mazh'un. Dia hijrah ke Abisinia pada masa hijrah yang kedua. Abu Ubaidah telah ikut serta dalam perang Badar dan semua peperangan melawan musuh.

Pada Waktu perang Uhud, dia tetap setia bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Pada hari itu juga, dia telah menarik dengan mulutnya dua rantai topi perang yang masuk pada bagian pipi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kedua gigi serinya juga tanggal pada saat itu.

Ciri-ciri Fisik Abu Ubaidah

Abu Ubaidah adalah seorang laki-laki berpostur rubuh kurus tinggi. Wajahnya mudah sekali berkeringat, kedua gigi serinya tanggal, dan tipis rambut jenggotnya. Dia memiliki dua orang anak yang bernama Yazid dan Umair. Kedua anak itu merupakan buah hatinya dengan sang istri yang bernama Hindun bin Jabir. Namun, keduanya telah meninggal dunia sehingga dia tidak lagi memiliki keturunan.

Perjalanan Hidup Abu Ubaidah

Dari Abu Qilabah, dia berkata: Aku diberitahu oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap umat itu memiliki orang yang dapat dipercaya, dan sesungguhnya orang yang dapat dipercaya dikalangan kita –wahai sekalian orang (muslim)– adalah Abu Ubaidah bin Al Jarrah”. 1)

Dari sahabat Anas bin Malik bahwa ketika penduduk Yaman datang berkunjung kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka meminta beliau agar mengirimkan seseorang yang akan mengajari mereka mengenai As-Sunnah dan ajaran Islam. Maka, Rasulullah memegang tangan Abu Ubaidah bin Al Jarrah sembari bersabda, “Inilah orang yang dapat dipercaya dari kalangan umat ini.”2)

Dari Syuraih bin Ubaid, Rasyid bin As'ad, dan para perawi selain keduanya, mereka berkata: Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu mendengar berita kalau di negeri Syam terjangkit wabah penyakit yang cukup gawat, maka dia berkata:“Telah sampai berita kepadaku bahwa di Syam terjadi wabah penyakit yang cukup parah.” Lalu Umar kembali berkata, “Jika ajalku menjemputku sedangkan Abu Ubaidah masih hidup, maka aku akan mengangkatnya sebagai khalifah. Jika Allah 'Azza wa Jalla bertanya kepadaku, Mengapa kamu mengangkatnya sebagai khalifah untuk umat ini? maka aku akn menjawab, bahwa seseungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya setiap Nabi memiliki seseorang yang dapat dipercaya. Sedangkan orang yang dapat aku percaya adalah Abu Ubaidah bin Al Jarrah'. Jika ajalku menjemputku sedangkan Abu Ubaidah juga telah meninggal dunia, maka aku akan mengangkat Muadz bin Jabal sebagai khalifah. Apabila Tuhanku 'Azza wa Jalla menanyaiku, 'Mengapa kamu mengangkatnya sebagai khalifah? maka aku akan menjawab, bahwa aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya dia (Muadz bin Jabal) akan digiring pada hari kiamat nanti di hadapan para ulama'.”

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhubahwa dia berkata kepada para sahabatnya, “Berangan-anganlah kalian!” Ada seorang laki-laki berkata, “Aku berangan-angan sendainya aku memiliki logam emas seisi rumah ini, maka aku akan menafkahkannya untuk kepentingan fi sabilillah (di jalan Allah).” Kemudian Umar kembali berkata, “Berangan-anganlah kalian!” Ada seorang laki-laki berkata, “Aku berangan-angan seandainya rumah ini terisi penuh dengan mutiara, batu mulia dan permata, maka aku akan menafkahkannya dan menyedekahkannya untuk kepentingan fi sabilillah.” Umar berkata untuk yang ketiga kalinya, “Berangan-anganlah kalian!” Maka mereka berkata, “Kami tidak tahu ,wahai Amirul Mukminin!” Maka Umar berkata, “Aku berangan-angan, seandainya rumah ini terisi penuh dengan orang-orang semisal Abu Ubaidah bin Al Jarrah.”

Dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dia berkata, “Ketika Umar tiba di Syam, orang-orang dan para tokoh daerah itu langsung menemuinya. Maka Umar berkata, 'Di manakah saudaraku?' Orang-orang bertanya, 'Siapa?' Umar menjawab, Abu Ubaidah'. Orang-orang berkata, 'Tidak lama lagi dia akan datang kepadamu'. Ketika Abu Ubaidah datang kepada Umar, dia turun (dari hewan tunggangannya) kemudian memeluknya. Lalu Umar masuk kedalam rumah Abu Ubaidah. Dia tidak melihat harta benda di dalam rumah Abu Ubaidah, kecuali hanya pedang, perisai dan pelana. Umar berkata kepada Abu Ubaidah, 'Tidakkah kamu ingin memiliki sesuatu yang dimiliki oleh sahabat-sahabatmu?' Abu Ubaidah menjawab, ' Wahai Amirul Mukminin, (cara hidup seperti) inilah yang bisa menyampaikan aku pada tempat peristirahatan'.” (HR. Imam Ahmad)

Bola Lover
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
Continue Reading...

Az-Zubair bin Awwam (Pembela Rasulullah s.a.w)

Dia adalah Abu Abdillah Az-Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushai bin Kilab. Ibunya bernama Shafiyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Wanita ini telah menyatakan dirinya sebagai pemeluk agama Islam. Az-Zubair sendiri tergolong pemeluk agama Islam pertama, yaitu ketika dia berusia 8 tahun. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa usianya ketika memeluk agama Islam adalah 16 tahun. Paman Az-Zubair telah menyiksanya dengan cara mengasapi tubuhnya agar dia mau meninggalkan agama Islam, namun Az-Zubair tetap teguh pada pendirirannya.

Dia ikut hijrah sebanyak dua kali ke negeri Abisina dan tidak pernah absen satu kali pun dalam peperangan yang diikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dialah orang pertama yang menghubuskan pedang untuk jihad fi sabilillah. Pada waktu perang Badar, dia memakai kain kafan sebagai ikat kepala. Dia sendiri pada waktu itu berada di barisan sebelah kanan. Para malaikat telah turun persis dengan tanda-tanda yang dia miliki. Dia juga tetap setia bersama-sama dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada perang Uhud dan berbaiat kepada beliau untuk mati.
Ciri-ciri Fisik Zubair bin Awwam

Dia adalah seorang laki-laki berperawakan tinggi dan berkulit putih. Namun ada juga yang mengatakan bahwa perawakan Az-Zubair tidak termasuk sangat tinggi dan juga tidak tergolong pendek. Dia bukan termasuk orang yang berbadan gemuk. Ada yang mengatakan bahwa warna kulitnya sawo matang, memiliki banyak bulu badan, dan kedua pipinya tidak penuh terisi daging.
Putra-putri Zubair bin Awwam

Nama Putra dan putri Az-Zubair adalah Abdullah, Urwah, Al Mundzir, Ashim, Al Muhajir, Khadijah Al Kubra, Ummul Hasan, dan Aisyah. Semua anak Az-Zubair ini berasal dari istrinya yang bernama Asma' binti Abu Bakar. Sedangkan anak-anaknya yeng bernama Khalid, Amru, Habibah, Saudah, dan Hindun berasal dari istrinya yang bernama Ummu Khalid. Nama asli wanita ini adalah Amah binti Sa'id bin Al Ash.

Anak-anaknya yang bernama Mush'ab, Hamzah, dan Ramlah berasal dari istrinya yang bernama Ar-Rabab binti Anif bin Ubaid. Anaknya yang bernama Ubaidah dan Ja'far berasal dari istrinya, Zainab. Putrinya yang bernama Zainab berasal dari istrinya , Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu'aith. Putrinya lagi yang bernama Khadijah Ash-Shugra berasal dari istrinya, Al Halal binti Qais.
Kisah Perjalanan HIdup Zubair bin Awwam

Dari Abu Al Aswad, dia berkata: “Zuabir bin Awwam memeluk agama Islam ketika dia masih berusia 8 tahun.1)Dia melakukan hijrah ketika berusia 18 tahun. Paman Zubair pernah menguncinya dalam sebuah tempat tahanan. Setelah itu, ruangan tersebut sengaja diasapi dengan cara membakar sesuatu di dalamnya. Lalu pamannya berkata, 'Kembalilah kamu kepada kekufuran!' Namun Zubair berkata, ' Aku tidak akan pernah kufur lagi untuk selama-lamanya'.”

Dari Abu Al Aswad Muhammad bin Abdurrahman bin Naufal, dia berkata, “Zubair memeluk agama Islam setelah Abu Bakar menyatakan keislamannya terlebih dahulu. Dia adalah orang keempat atau orang kelima yang menyatakan keislamannya.”

Dari Abdullah bin Zubair, dari ayahnya, dia berkata, “Pada waktu (usai) perang Uhud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersumpah untuk menjadikan kedua orang tua beliau sebagai tebusan bagiku.”

Dari Abdullah bin Zubair, dia berkata, ” Pada waktu perang Khandaq aku bersama-sama dengan Umar bin Abu Salamah sedang berada di dalam bangunan tinggi sejenis benteng yang didalamnya terdapat istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Benteng itu milik sahabat Hasan. Umar bin Abu Salamah ketika itu mengangkat diriku dan aku juga mengangkat dirinya. Ketika dia mengangkat diriku, aku melihat ayahku melintas di Bani Quraizah. Ayahku (Zubair) ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika perang Khandaq. Lalu ayahku berkata, “Siapa yang mau datang ke Bani Quraizah dan memerangi mereka?” Aku (Abdullah bin Zubair) berkata kepadanya ketika telah pulang, “Wahai ayahku, aku telah melihatmu ketika sedang melintas di Bani Quraizah, Zubair berkata, “Wahai putraku, demi Allah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjadikan ayah dan ibunya sebagai tebusan untukku. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, 'Ayahku dan ibuku menjadi tebusan untukmu'.”(HR. Bukhari-Muslim dalam Shahihain) 2)

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, dia berkata, “Ketika perang Khandaq, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajak orang-orang untuk berjihad. Zubair menyambut ajakan tersebut. Kemudian Rasulullah kembali mengajak mereka untuk berjihad, lagi-lagi Zubair langsung menyambut ajakan tersebut. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya setiap Nabi itu memiliki penolong, dan penolongku adalah Zubair'.”(HR. Bukhari-Muslim dalam kitab Shahihhain) 3)

Dari Sa'id bin Al Musayyib, dia berkata, “Orang yang pertama kali menghunuskan pedang dalam fi sabilillah adalah Zubair bin Awwam. Ketika Zubair sedang berada di Mekkah, dia mendengar suara-suara yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah terbunuh. Maka, dia langsung keluar tanpa menggunakan pakaian lengkap sambil membawa pedang yang terhunus dan nampak mengkilat. Lalu dia ditemui oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam secara berhadapan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, /'Ada apa denganmu, wahai Zubair?'/ Zubair menjawab, ' Aku telah mendengar berita bahwa Anda telah terbunuh'. Rasulullah bertanya, 'Memang apa yang akan kamu kerjakan?' Dia menjawab, 'Demi Allah, aku hendak menghadapi orang-orang Mekkah'. Maka, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan kebaikan untuknya.”

Dari Amru bin Mush'ab bin Zubair, dia berkata, “Zubair sudah ikut berperang bersama-sama dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika dia masih berusia 12 tahun. Dia benar-benar ikut melakukan penyerangan terhadap kaum kafir.”

Dari Nuhiak, dia berkata, “Zubair memiliki 1000 orang hamba sahaya yang senantiasa membayar upeti kepadanya (untuk pembebasan dirinya). Namun, tidak ada sedirham pun dari uang upeti itu yang masuk ke kantong pribadinya, dia menyedekahkan semua uang itu.” Di dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Zubair membagi-bagikan uang itu setiap malam. Barulah setelah itu dia pulang ke rumah tanpa membawa uang sepeser pun.

Dari Juwairiyah, dia berkata, “Zubair menjual rumahnya seharga 600.000. Lalu dikatakan kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, kamu telah ditipu dalam transaksi jual-beli itu'. Zubair menjawab, 'Demi Allah, tidak, kalian pasti akan tahu bahwa aku tidak tertipu dalam transaksi jual-beli itu! Sebab, semua uangnya akan aku pergunakan untuk keperluan fi sabilillah'.”

Dari Ali bin Zaid, dia berkata, “Aku diberi kabar oleh orang yang pernah melihat Zubair. Menurutnya, dada Zubair mirip mata air karena banyaknya bekas tusukan dan tikaman tombak.”

Dari Qais bin Abi Hazim, dari Zubair bin Awwam radhiyallahu 'anhu, dia berkata, “Barangsiapa diantara kalian ada yang bisa melakukan amal shalih, maka hendaklah dia melakukannya.”
Terbunuhnya Zubair bin Awwam

Zuabir mati terbunuh dalm perang Jamal ketika berusia 75 tahun. Namun ada yang mengatakan bahwa usianya ketika itu adalah 60 tahun atau 50 tahun lebih. Yang telah membunuhnya adalah Ibnu Jurmuz.

Dari Zirr, dia berkata: Ibnu Jurmuz meminta izin untuk menghadap Ali. Ketika itu aku sedang berada di sisinya. Maka Ali berkata, “Beritahukan kepada pembunuh Ibnu Shafiyah (Zubair) bahwa dia akan masuk neraka.” Setelah itu Ali berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya setiap Nabi itu memiliki penolong, dan penolongku adalah Zubair'.”4)

Dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu 'anhuma, dia berkata, “Pada waktu perang Jamal, Zubair berwsiat kepadaku mengenai utangnya. Dia berkata, 'Jika aku tidak sanggup membayar utangku, maka minta tolonglah kamu kepada tuanku!'” Abdullah bin Zubair berkata, Demi Allah aku tidak paham apa yang dia maksud. Sampai akhirnya aku berkata, ' Wahai Ayahku, siapakah tuanmu itu!'” Zubair menjawab, “Allah.” Abdullah berkata, “Aku sama sekali tidak khawatir dengan utangya, sebab aku berdoa, 'Wahai Tuhannya Zubair, bayarkanlah utang-utangnya'. Ternyata Allah benar-benar membayar lunas semua utang Zubair.”

Sesungguhnya utang Zubair adalah ketika ada seorang laki-laki yang datang kepadanya dengan membawa sejumlah harta. Lalu lelaki itu menitipkan hartanya kepada Zubair. Namun Zubair berkata, “Aku tidak mau (kalau hanya sekedar titip), akan tetapi aku akan mengembangkan harta tersebut.” Lalu Zubair menghitung uang yang menjadi tanggungannya. Ternyata jumlahnya mencapai 2.200.000. Ternyata, Zubair mati terbunuh dengan tidak meninggalkan satu dinar atau satu dirham pun. Yang dia tinggalkan hanya dua bidang tanah. Maka, aku (Abdullah bin Zubair) menjualnya untuk membayar utang-utangnya. Namun anak keturunan Zubair yang lain berkata, “Berikanlah hak waris untuk kami!” Aku berkata kepada merka, “Demi Allah, aku tidak akan membagikannya kepada kalian, sampai aku mengumumkan kepada orang-orang sebanyak 4 kali, musim haji, siapa diantara mereka yang pernah diutangi Zubair.”

Setiap kali musim haji, Abdullah berkata kepada orang-orang, “Perhatian, siapa yang hartanya pernah diutangi Zubair, maka hendaklah dia datang kepada kami sehingga kami akan membayarnya.” Hal seperti ini terus dia lakukan selama empat kali musim haji. Baru setelah itu, harta waris hasil penjualan tanah itu dibagikan kepada anggota keluarga Zubair.



1) Al Hafizh berkata, “Al Hakim (III/360) telah meriwayaytkan dengan sanad yang shahih dari Urwah, dia berkata, 'Zubair memeluk agama Islam ketika dia masih berusia 8 tahun'.”
2) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3720).
3) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3719).
4) Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (2747,2997) dan Muslim (Fadhailush-Shahabah/48) dari Hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, dia berkata, ”…Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya setiap Nabi itu memiliki penolong, dan penolongku adalah Zubair'.” Di dalam hadits ini tidak disebutkan redaksi yang berbunyi, “Beritahukan kepada pembunuh Ibnu Shafiyah bahwa dia akan masuk neraka.” Adapun riwayat yang telah disebutkan pengarang diatas, adalah hadits milik Ali yang diriwayatkan oleh Al Hakim (II/367).

Al Hafizh berkata, “Zubair terbunuh pada bulan Rajab tahun 36 H. Ketika itu dia telah meninggalkan medan perang Jamal. Dia sengaja meninggalkan peperangan tersebut. Namun akhirnya dia dibunuh oleh Amru bin Jurmuz At-Tamimi dengan tipu muslihat. Lalu Amru bin Jurmuz datang kepada Ali untuk memberitahukan hal tersebut, namun Ali malah memberi kabar kepadanya bahwa dia akan masuk neraka.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmizi, dan ulama ahli hadits lainnya. Al Hakim juga telah menganggapnya sebagai hadits shahih. Lihat kitab Al Fath (VII/102).
Bola Lover
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
Continue Reading...

Abu Ayyub Al-Anshari (Pejuang di waktu senang ataupun susah)

Sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang mulia ini bernama Khalid bin Zaid bin Kulaib, dari Bani Najjar. Julukannya adalah Abu Ayyub Al-Anshari.

Siapa gerangan muslim yang tidak mengenal Abu Ayyub Al-Anshari?

Allah mengharumkan namanya di Timur dan di Barat dan mengangkat derajatnya di atas makhluk-makhlukNya yang lain ketika Dia memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara bagi Nabi mulia yang baru berhijrah ke Madinah. Menginapnya Rasulullah di rumah Abu Ayyub merupakan kisah yang teramat indah untuk dikenang kembali.

Betapa tidak. Saat itu Nabi tiba di Madinah dengan dielu-elukan oleh seluruh penduduk. Semua mata memandanginya dengan penuh kerinduan seolah memandang sang kekasih hati. Mereka semua membuka pintu-pintu rumah, berharap Nabi mulia itu sudi menginap di tempat mereka.

Tetapi Rasulullah ternyata tinggal di sebuah desa berjarak dua mil dari Madinah, yaitu desa Quba'. Disini beliau membuat masjid pertama yang dibangun di atas dasar taqwa.

Kemudian beliau menunggangi ontanya keluar. Para pemimpin kota Yatsrib berusaha agar beliau mau berhenti. Masing-masing ingin mendapat kehormatan dijadikan tempat menginap oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka menghalang-halangi jalannya onta tunggangan beliau dan memohon-mohon, “Tinggallah di rumah saya beserta seluruh perlegkapan Anda, wahai Rasulullah. Kami akan menjamin keselamatan Anda.”

Rasulullah berkata, “Biarkanlah onta ini berjalan sekehendaknya karena dia diperintah oleh Allah.”

Onta itu terus berjalan diikuti tatapan mata para penyambut. Bila dia melewati satu rumah, maka pemiliknya merasa pupus harapan untuk bisa menjadi tuan rumah bagi Rasulullah. Sebaliknya pemilik rumah-rumah berikutnya menanti dengan harap-harap cemas akankah rumah mereka dipilih oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Namun si onta terus saja berjalan. Orang-orang pun mengikutinya dengan penasaran. Akhirnya sampailah dia disuatu tanah kosong di depan rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Di situlah dia berhenti dan duduk.

Tapi Rasulullah tidak segera turun. Tak lama kemudian memang si onta bangkit dan berjalan kembali. Rasulullah melepaskan tali kendalinya. Belum jauh berjalan, dia berbalik dan duduk di tempat semula.

Tak terkirakan kebahagiaan Abu Ayyub Al-Anshari. Dia segera mendekati Rasulullah dan menurunkan barang-barang bawaan beliau. Rasanya dunia seisinya terkumpul di rumahnya….

Rumah Abu Ayyub terdiri dari dua lantai. Dia bermaksud mengosongkan barang-barangnya di lantai atas agar bisa di tempati oleh Rasulullah. Namun Rasulullah memilih tinggal di lantai bawah sehingga Abu Ayyub menuruti saja kehendak beliau.

Ketika malam, Rasulullah beranjak ke peraduannya, sementara Abu Ayyub dan istrinya naik ke lantai atas. Setelah menutup pintu, berkatalah Abu Ayyub, “Istriku, apa yang kita lakukan ini? Rasulullah berada di bawah dan kita di atasnya? Patutkah hal seperti ini? Kita berada di antara nabi dan wahyu yang akan turun kepada beliau!

Semalaman kedua suami istri ini gelisah dan tak tahu yang harus dilakukan. Mereka menyingkir dari tengah-tengah ruangan yang diperkirakan Rasulullah tidur di bawahnya. Bila hendak pergi ke sisi ruangan yang lain, mereka berjalan menempel dinding karena tak ingin berjalan di atas Rasulullah.

Pagi harinya Abu Ayyub berterus terang kepada Rasulllah, “Wahai Rasulullah, demi Allah semalam suntuk saya tidak dapat memejamkan mata, demikian pula dengan ummu Ayyub.”

Nabi bertanya, “Apakah sebabnya, wahai Abu Ayyub?”

“Saya teringat betapa saya berada di atas sedangkan Anda di bawah. Bila saya bergerak, maka debu-debu akan rontok dari atas dan mengganggu Anda. Di samping itu saya berada di antara wahyu dan Anda.”

Rasulullah menenangkannya, “Tenanglah, Abu Ayyub. Sesungguhnya aku merasa lebih enak berada di bawah, karena nantinya tentu banyak tamu yang berdatangan.”

Berkisahlah Abu Ayyub:

Aku mengikuti pilihan Rasulullah. Tapi pada suatu malam yang amat dingin, kendi air minum kami terjatuh dan airnya membasahi lantai. Sedangkan satu-satunya benda yang bisa dipakai untuk mengelapnya hanya selimut yang kami pakai. Maka tanpa pikir panjang kami segera mengepel air tumpahan tersebut dengan selimut sebelum terlanjur menetes ke bawah dan mengenai Rasulullah.

Keesokan harinya aku mendatangi Rasulullah seraya berkata, “Demi ayah bundaku, wahai Rasulullah, benar-benar saya tidak bisa tinggal di atas Anda.” Kuceritakan soal kendi yang pecah itu. Beliau akhirnya menerima alasanku dan bersedia pindah ke atas, sedangkan aku dan Ummu Ayyub turun ke lantai bawah.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tinggal di rumah Abu Ayyub selama sekitar tujuh bulan, yaitu sampai masjid di atas tanah yang diduduki onta beliau selesai dibangun. Selanjutnya beliau dan para istrinya tinggal di bilik-bilik di sebelah masjid. Beliau menjadi tetangga Abu Ayyub, tetangga yang menyebabkannya memperoleh kemuliaan dan keutamaan.

Abu Ayyub mencintai Rasulullah dengan cinta yang menyita segenap akal dan hatinya. Rasulullah juga mencintai Abu Ayyub dengan cinta yang menghapuskan dinding pemisah antara Abu Ayyub dan dirinya karena Rasulullah menganggap rumah Abu Ayyub seperti rumah sendiri.

Berkisah Ibnu Abbas:

Pada suatu siang yang terik Abu Bakar keluar dari rumahnya menuju ke masjid. Umar melihat lalu menyapanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang menyebabkan Anda keluar rumah pada siang seterik ini?”

Jawab Abu Bakar, “Aku tidak akan keluar rumah kalau tidak didorong oleh rasa lapar yang menggigit.”

Umar menimpali, Aku pun demi Allah tidak keluar kecuali karena sebab yang sama.”

Saat mereka berdua bercakap-cakap, Rasulullah datang seraya bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian keluar rumah pada saat sepanas ini?”

Keduanya menjawab, “Demi Allah, perut yang perih karena laparlah yang memaksa kami keluar.”

Kata Nabi, “Demi jiwaku ditanganNya, tidak ada pula yang mengeluarkan diriku dari rumah kecuali itu juga. Mari ikutlah aku.”

Mereka bertiga berjalan sampai di depan pintu rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Setiap hari Abu Ayyub memang biasa menyediakan makanan untuk Rasulullah. Bila pada waktu-waktu makan beliau tidak juga datang, baru Abu Ayyub memperbolehkan keluarganya memakannya.

Ummu Ayyub membuka pintu lalu mengucapkan salam, “Selamat datang, wahai Nabi dan saudara-saudara.”

Rasulullah bertanya, “Dimana Abu Ayyub?”

Saat itu Abu Ayyub sedang mengurus pohon kurmanya disamping rumah. Mendengar suara Nabi, dia segera menyongsong, “Selamat datang, wahai Rasulullah dan saudara-saudara.” Lanjutnya, “wahau Nabiyullah, bukan kebiasaan anda datang pada waktu-waktu seperti ini.”

Nabi membenarkan, “Engkau benar.”

Abu Ayyub kemudian memotong setandan kurma yang berisi tamar, rutab, dan busr (rutab adalah kurma telah masak, sedangkan busr adalah yang masih seperti masak).

Rasulullah berkata, janganlah engkau memotong tandan yang begini. Sebaiknya ambillah tandan yang sudah sempurna.

Kata Abu Ayyub, “Wahai Rasulullah, saya ingin Anda makan tamarnya, rutab-nya, serta busr-nya juga. Saya pun akan menyembelih kambing untuk Anda.”

Pesan Rasulullah, “Janganlah engkau menyembelih kambing yang sudah mengeluarkan susu.”

Abu Ayyub memilih seekor anak kambing yang berumur setahun. Setelah menyembelihnya, dia berkata kepada istrinya. “Buatlah adonan untuk roti, engkau lebih mengerti cara membuat roti. Untuk kambingnya, masaklah yang separuh dan bakarlah separuh lainnya.”

Setelah masak, roti, kuah, dan kambing segera dihidangkan. Rasulullah mengambil sepotong daging dan menaruhnya didalam roti seraya berkata, “Wahai Abu Ayyub, tolong antar roti dan daging ini kerumah Fathimah. Dia juga beberapa hari tidak makan sesuatu.”

Setelah mereka semua kenyang, Nabi berkata, “Roti, daging, tamar, busr,dan rutab. “Kedua mata beliau berlinangan ketika melanjutkan, “demi jiwaku di tangan-Nya, inilah yang disebut nikmat, yang akan kalian pertanggungjawabkan kelak pada hari kiamat. Bila kalian menghadapi hidangan seperti ini dan akan menyantapnya, bacalah basmalah. Bila sudah kenyang ucapkan: ”Alhamdulillahiladzi huwa asba'anaa wa an'ama 'alaina fa afdhala (Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan sampai kenyang dan memberi karunia sebaik-baiknya).”

Rasululah lalu bangkit dan berpesan kepada Abu Ayyub, “Besok datanglah ketempatku.”

Sudah menjadi tabiat luhur Rasulullah bahwa tak seorang pun berbuat baik kepada beliau kecuali segera dibalas dengan kebaikan yang lain. Namun kelihatannya Abu Ayyub tidak mendengar kata-kata beliau sehingga Umar merasa perlu mengulangi, “Nabi meminta Anda datang kepada beliau besok pagi.”

Abu Ayyub segera berkata, “Saya akan datang besok, ya Rasulullah.”

Keesokan harinya pergilah Abu Ayyub ke tempat Rasulullah. Beliau ternyata menghadiahinya seorang pembantu rumah tangga seraya berpesan, “Perlakukanlah anak ini dengan baik di rumahmu, Abu Ayyub. Kami tidak pernah mendapati pada dirinya selain sesuatu yang baik selama di rumah ini.

Abu Ayyub pulang pulang bersama anak belia itu. Ummu Ayyub keheranan melihatnya, maka ia berkata, “Untuk siapa anak ini, Abu Ayyub?”

Jawab Abu Ayyub, “Untuk kita. Hadiah dari Rasulullah.” “Sebuah hadiah yang paling berharga,” komentar Ummu Ayyub.

Abu Ayyub melanjutkan, “Beliau berpesan agar kita memperlakukan anak ini sebaik-baiknya.”

Ummu Ayyub berpikir-pikir, “Kebaikan apa yang bisa kita lakukan terhadapnya untuk melaksanakan pesan Rasulullah itu?”

Kedua suami-istri itu terdiam beberapa saat sampai akhirnya Abu Ayyub berkata, “Demi Allah aku tidak mungkin melaksanakan pesan itu lebih baik daripada memerdekakan anak ini.”

“Engkau telah mendapat petunjuk kebenaran! Engkau mendapatkan taufik!” Ummu Ayyub kegirangan.

Anak kecil itu pun dimerdekakan oleh mereka ….

Rangkaian kisah diatas adalah mengenai kehidupan Abu Ayyub Al-Anshari dalam suasana damai. Bila Anda sempat mengetahui sebagian hidupnya dalam peperangan, niscaya Anda akan menjumpai hari-hari yang menakjubkan.

Sepanjang hidupnya, Abu Ayyub adalah seorang mujahid, seorang pejuang yang aktif. Dia bahkan tidak pernah ketinggalan dalam seluruh perang muslimiin sejak masa Rasulullah hingga masa Muawiyah kecuali bila disibukkan oleh suatu tugas.

Perang terakhir yang diikutinya adalah penaklukan Konstantinopel. Muawiyah saat itu mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh putranya sendiri, Yazid. Pada masa itu Abu Ayyub adalah seorang lanjut usia berumur delapan puluhan. Dia tidak mau ketinggalan ikut berperang di bawah panji-panji Yazid dan turut menerjang gelombang musuh sebagai seorang pejuang.

Namun Abu Ayyub tak mampu lama-lama bertempur. Dia menderita sakit yang mengharuskannya untuk beristirahat. Yazid sebagai panglima menjenguk dan bertanya, “Adakah anda memerlukan sesuatu, Abu Ayyub?”

Dia menjawab, “Sampaikanlah salamku kepada seluruh kaum muslimin…”

Abu Ayyub juga berpesan agar pasukan terus maju kedaerah musuh dan membawanya bersama mereka. Bila nanti dia wafat di medan perang, hendaknya jenazahnya dibawa dan dimakamkan dibawah dinding batu konstantinopel.

Tak lama setelah itu, Abu Ayyub pun wafat.

Pasukan muslimin melaksanakan amanat sahabat Rasulullah ini. Mereka terus bertempur dengan gagah berani. Ketika mencapai dinding Konstantinopel mereka memakamkan jenazah Abu Ayyub dibawahnya.

Semoga Allah memberi rahmat kepada Abu Ayyub Al-Anshari. Dia tidak mau mati kecuali diatas punggung beberapa ekor kuda jinak sebagai pejuang. Menyerbu ke tengah medan tanpa mempedulikan bahwa usianya sudah delapan puluh tahun.
Bola Lover
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
Continue Reading...

Zaid bin Tsabit (Penghimpun Kitab Suci Al-Qur'an)

“Anda adalah seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukanmu”, kata khalifah Abu Bakar kepada Zaid bin Tsabit.

Siapa tak kenal Zaid bin Tsabit, sang juru tulis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Kedekatannya dengan Al-Qur’an mengantarkannya pada derajat ulama di kalangan shahabat. Setelah Rasulullah wafat, Zaid dijadikan rujukan utama jika ada yang ingin bertanya tentang Al-Qur’an. Karena kemampuan itu, saat Umar Bin Khatab menjadi khalifah, Umar pernah berfatwa, “Hai manusia, siapa yang ingin bertanya tentang Al Qur’an, datanglah kepada Zaid Bin Tsabit….”.

Di masa Abu Bakar Siddiq menjadi khalifah, Zaid menjadi ketua kelompok yang bertugas menghimpun Al Qur’an. Dan dimasa pemerintahan Ustman Bin Affan, ia menjadi ketua tim penyusun mushaf Al Qur’an. Begitulah, buah cinta Zaid pada Al-Qur’an menggerakkannya untuk menjadi ulama Al-Qur’an.

Kebesaran nama Zaid Bin Tsabit dan kedalaman ilmu yang dimilikinya menjadi sebuah kehilangan besar ketika tiba waktunya ia pergi menghadap Illahi Robbi. Kaum muslimin bersedih karena mereka kehilangan seseorang yang dihatinya bersarang ilmu Al Qur’an. Bahkan Abu Hurairah mengungkapkannya sebagai kepergian Samudera Ilmu. Begitulah Zaid Bin Tsabit dengan keluasan ilmu Al Qur’an yang ia miliki.

***

Tapi siapa sangka, pada Zaid kecil, tidak terpikir dalam dirinya akan menjadi ulama besar. Zaid kecil memikirkan cara lain untuk menjadi penegak panji-panji Allah. Di usianya yang baru 13 tahun, Zaid mendatangi Rasulullah yang kala itu sedang mengadakan persiapan perang. Zaid kecil datang membawa sebilah pedang, yang lebih panjang dari tinggi badannya, menemui Rasulullah.

Dengan penuh semangat dan percaya diri, Zaid kecil berkata kepada Rasulullah, “Saya bersedia syahid untukmu wahai Rasulullah. Ijinkan saya pergi berjihad bersama anda untuk memerangi musuh-musuh Allah, dibawah panji-panjimu“. Rasulullah tertegun. Melihat bocah kecil penuh semangat ini, Rasulullah gembira dan takjub. Beliau menepuk pundak Zaid lalu berkata bahwa permintaan Zaid tidak bisa dikabulkannya. Zaid masih terlalu kecil untuk terlibat dalam peperangan.

Zaid yang tadinya datang menemui Rasulullah dengan semangat berapi-api dan penuh percaya diri, pulang dengan rasa kecewa. Zaid kecil pun menangis tersedu dan mengadukan hal ini kepada ibunya. Berharap bisa membantunya membujuk Rasulullah agar diperbolehkan ikut berjihad. Atas nama cinta. Ya, atas nama cinta.

Ibunda Zaid pergi menemui Rasulullah, mengajukan permohonan agar putra tercintanya diperbolehkan ikut berjuang dijalan Allah. Nuwar Binti Malik, ibunda Zaid, pun menghadap Rasulullah menyampaikan kelebihan Zaid kecil; hapal tujuh belas surah dengan bacaan yang baik dan benar, serta mampu membaca dan menulis dengan bahasa arab dengan tulisan yang indah dan bacaan yang lancar. Lalu Rasulullah meminta Zaid mempraktekan apa yang dikabarkan tentang dirinya oleh ibunya.

Rasulullah kagum, ternyata kemampuan Zaid lebih bagus dari yang disampaikan ibunya. Rasulullah meminta Zaid belajar bahasa Suryani dan bahasa Ibrani, bahasa orang Yahudi. Berita gembira itu disambut Zaid dengan suka cita. Kalau tidak bisa ikut berperang, Zaid kecil masih bisa memperjuangkan Islam dengan ilmu.

Lalu Zaid pun mempelajari bahasa Suryani dalam 17 hari, dan bahasa Ibrani dalam 15 hari. Dalam waktu singkat, Zaid menguasai bahasa itu. Setiap kali Rasulullah mendapat surat atau membalas surat kepada orang Yahudi, beliau meminta Zaid melakukannya. Di usianya yang sangat muda, Zaid menjadi orang kepercayaan Rasulullah, karena kemampuannya membaca dan menghapal Al-Qur’an. Rasulullah pun mempercayakan Zaid untuk selalu menuliskan wahyu yang turun kepada Rasulullah.

Semangat Zaid kecil berubah dari menghunus pedang di medan pertempuran, menjadi seorang yang mendapat amanah besar menjaga Al-Qur’an. Atas nama cinta. Ya, cinta itu menggerakannya. Dan zaid mendapat kedudukan sebagaimana para syuhada yang membela Islam dan gugur di medan pertempuran. Allah kariim. Semoga Allah subhanahu wata’ala merahmati dan memberi beliau tempat yang layak disisi-Nya.

Begitulah Zaid Bin Tsabit. Kecintaanya yang besar terhadap Islam, menggerakkannya untuk berjuang apapun jalan yang harus ditempuhnya. Semoga kita dianugerahi rasa cinta sebagaimana cinta Zaid bin Tsabit. Amiin.
Bola Lover
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
Continue Reading...

Suhaib bin Sinan (Ar-Rumi) - (sebaik-baik perniagaan dan keuntungan…)

Siapa di antara kaum muslimin yang belum kenal dengan Suhaib Ar-Rumi dan belum mengetahui secuil pun dari riwayatnya?

Yang tidak di ketahui oleh kebanyakan dari kita adalah bahwa sesungguhnya Suhaib bukanlah Ar-Rumi (orang Romawi). Dia adalah Arab asli. Berayah dari suku Numair dan ibu dari suku Tamim. Nama Suhaib di nisbahkan kepada Romawi karena suatu kisah yang sulit dilupakan oleh sejarah.

Alkisah kurang lebih dua tahun sebelum bi'tsah (diutusnya) Rasulullah, penguasa kota Ubulah (kota lama yang sekarang termasuk wilayah Bashrah) adalah Sinan bin Malik An-Numairi. Sinan mempunyai anak yang sangat di cintainya seorang bocah berusia lima tahun yang diberi nama Suhaib.

Suhaib adalah seorang anak yang berwajah ceria, berambut pirang, gesit, lucu, lincah, dan sorot matanya menunjukkan kecerdasan. Keberadaannya membahagiakan hati ayahnya dan melenyapkan semua duka citanya.

Pada suatu kesempatan, Suhaib dan ibunya bepergian ke desa At-Taniya di daerah Iraq untuk tetirah. Mereka ditemani oleh beberapa pembantu dan pengawal.

Tanpa disangka-sangka, desa tersebut diserang oleh pasukan Romawi. Para pengawal berhasil dilumpuhkan, kemudian harta benda mereka dirampas, dan mereka sendiri ditawan. Termasuk di antara para tawanan ini adalah si kecil Suhaib.

Kini berubahlah seluruh kehidupan Suhaib. Dia dijual di pasar budak Romawi. Silih berganti tangan yang menguasainya. Berpindah dari satu majikan ke majikan yang lain. Ini merupakan kebiasaan kehidupan para budak yang ribuan jumlahnya memenuhi istana-istana Romawi.

Ternyata Suhaib selalu menarik hati tuan-tuannya. Dari situ dia bisa melihat sendiri kehidupan di dalam istana-istana Romawi yang penuh dengan kebejatan moral. Dengan telinganya dia mendengar berbagai macam kejahatan dan kezhaliman. Oleh sebab itu dia membenci dan menghinakan masyarakat itu dan berkata dalam hati “Masyarakat yang seperti ini tidak bisa dibersihkan kecuali dengan angin topan….”

Suhaib tumbuh di negeri Romawi dan dewasa di antara para penduduknya. Dia nyaris melupakan bahasa Arab kini. Namun demikian tak pernah lenyap dari ingatannya bahwa dia adalah seorang anak Arab, keturunan padang pasir. Kerinduannya akan hari kebebasannya tak pernah padam. Dia selalu berharap bisa kembali kepada suku bangsanya.

Kerinduan itu semakin membuncah tatkala mendengar seorang “dukun” Nasrani berkata kepada tuannya, “Telah tiba masanya seorang nabi datang dari Makkah di jazirah Arab. Dia membenarkan risalah Isa bin Maryam dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju terang.”

Beruntunglah, suatu ketika datang kesempatan bagi Suhaib untuk melarikan diri. Begitu lepas dari tuan-tuannya, dia langsung menuju Makkah, Ummul Qura, yang merupakan pusat kediaman bangsa Arab dan tempat munculnya nabi yang dinanti-nanti.

Begitu menginjakkan kaki di sana, orang-orang memanggilnya Suhaib Ar-Rumi -Suhaib si orang Romawi- karena lidahnya kaku bila berbahasa Arab, lagi pula rambutnya pirang.

Selanjutnya Suhaib berdagang bersama seorang tokoh Makkah, Abdullah bin Jad'an. Dia mendapatkan untung besar, maka dalam waktu singkat menjadi kaya raya. Tapi benaknya terus mengingat kata-kata si “dukun” Nasrani di Romawi dulu. Dia bertanya-tanya pada diri sendiri, “Bilakah hal itu terjadi?”

Jawaban datang tak lama setelah itu.

Pada suatu hari dia pulang ke Makkah dari bepergian. Segera didengarnya berita bahwa Muhammad bin Abdullah telah diutus. Dia menyampaikan dakwahnya, menyeru orang-orang agar beriman kepada Allah semata, mendorong pada keadilan dan kebaikan, serta melarang kejahatan dan kemungkaran.

“Bukankah dia yang biasa dijuluki Al-Amin?” tanya Suhaib.

“Benar,” jawab lawan bicaranya. “Dimana tempatnya?”

“Di rumah Arqam bin Abi Arqam di Shafa. Tapi jangan sampai orang-orang Quraisy melihatmu. Engkau bisa dicincang habis oleh mereka. Apalagi engkau seorang asing. Tak ada sanak keluarga atau kaum yang melindungimu.”

Suhaib pergi dengan sangat hati-hati. Sebentar-sebentar dia menengok ke belakang. Ketika sampai di depan pintu rumah kawannya, Ammar bin Yasir, dia ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya mengentuk.

“Tidakkah engkau ingin sesuatu, Ammar?” tanya Suhaib.

“Apa yang engkau inginkan?” Ammar balik bertanya.

“Aku ingin menemui orang itu dan mendengarkan ajaran yang dikatakannya.”

“Aku juga begitu,” kata Ammar.

“Kalau begitu, mari kita berangkat bersama-sama dengan berkah Allah.”

Suhaib bin Sinan dan Ammar bin Yasir pergi menjumpai Rasulullah dan mendengarkan seruan beliau. Cahaya iman menyinari kalbu keduanya. Mereka mengulurkan tangan untuk bai'at syahadat “Laa ilaha illallah Muhammadar Rasulullah”. Seharian mereka berdua tinggal di sisi Nabi untuk mengambil tuntunannya dan mengakrabkan persahabatannya.

Begitu malam turun dan keadaan mulai sepi, Suhaib dan Ammar keluar dalam lindungan kegelapan. Masing-masing membawa cahaya di hatinya, yang cukup terang untuk menyinari alam semesta.

Suhaib ikut memikul bagiannya dari siksaan Quraisy bersama Bilal, Ammar, Sumayyah, Yasir, Khabrah, dan puluhan muslimin lainnya. Seandainya penganiayaan Quraisy tersebut ditimpakan pada sebuah gunung, niscaya akan runtuh. Namun orang-orang ini menerima semua itu dengan jiwa yang mantap dan penuh kesabaran, karena mereka tahu bahwa jalan ke surga penuh dengan kepedihan.

Setelah Rasulullah mengizinkan sahabat-sahabatnya hijrah ke Madinah, Suhaib juga ingin berangkat menyertai Rasulullah dan Abu Bakar. Tapi malang, Quraisy mencium rencana itu. Mereka menghalang-halanginya dengan memasang pengawas di jalan-jalan untuk mencegah jangan sampai harta benda yang diperolehnya lepas dari tangan mereka.

Suhaib menanti-nanti kesempatan untuk menyusul Rasulullah serta sahabat-sahabatnya, tetapi gagal karena pengawasan terhadapnya sangat ketat. Tak mungkin dia lolos kalau tidak dengan tipu muslihat.

Pada suatu malam yang sangat dingin, Setelah orang-orang itu kelihatan tidur kembali, pelan-pelan Suhaib merangkak menjauh. Dia langsung menuju ke arah Madinah.

Para pengawas Quraiys baru menyadari apa yang terjadi setelah Suhaib tak kunjung kembali. Mereka terbangun dengan kebingungan, kemudian bergegas mengejar dengan kuda-kuda mereka. Suhaib berhasil ditemukan di jalan menuju Madinah.

Melihat datangnya bahaya, Suhaib segera mencari tempat yang menguntungkan, lalu menyiapkan busur dan panah. Ia menggertak, “Hai orang-orang Quraisy, kalian tahu aku sangat mahir membidik dengan panah. Jangan harap kalian bisa menyentuhku sebelum habis anak panah di bahuku ini. Satu bidikan untuk satu orang bagi kalian. Akan kugunakan pula pedangku yang tajam ini selama masih berada di tanganku.”

Salah satu dari mereka berkata, “Demi Tuhan, kami tidak bisa membiarkan engkau pergi bersama hartamu. Dulu engkau datang kemari dalam keadaan miskin, lalu menjadi paling kaya raya.”

Suhaib berusaha menawar, Apakah kalian bersedia melepasku kalau harta benda itu kutinggalkan?”

“Ya.”

Tanpa pikir panjang dia menunjukkan tempat penyimpanan hartanya di Makkah. Mereka pun pergi mengambilnya dan membiarkan dia pergi.

Suhaib mempercepat parjalanan. Dengan agamanya, dia melarikan diri untuk menuju Allah tanpa menghiraukan harta kekayaan yang dikumpulkannya semenjak muda. Tak sedikit pun dia menyesali.

Setiap kali rasa capai menggoda, dia mengingat-ingat rasa rindunya kepada Rasulullah. Bila sudah begitu, bangkit lagi semangatnya untuk melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di Quba', Rasulullah menyambut Suhaib Ar-Rumi dengan wajah berseri-seri seraya berkata berulang-ulang, “Ya Abu Yahya (maksudnya Suhaib Ar-Rumi) untung besar perniagaanmu…”

Bukan main suka cita hati Suhaib. Wajahnya cerah ketika berkata, “Ya Rasulullah, tidak ada orang yang mendahuluiku. Berarti tak ada yang memberitahu Anda Kecuali Jibril ('alaihi salam.www.sohabat.org).”

Benar. Suhaib mendapatkan untung dalam perniagaannya. Wahyu dari langit membenarkannya, disaksikan oleh Jibril ketika membawa firman Allah:

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Al-Baqarah: 207).

Untung besar bagi Suhaib, dan itulah sebaik-baik perniagaan dan keuntungan…
Bola Lover
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
Continue Reading...

Abdurrahman bin Auf (Apa sebabnya anda menangis, Hai Abu Muhammad)

Dia adalah Abu Muhammad bin Abdurrahman bin Auf bin Abdi Manaf bin Abdil Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai. Nama Abdurrahman bin Auf dimasa Jahiliyyah adalah Abdu Amru. Ada juga yang mengatakan bahwa namanya adalah Abdul Harits atau Abdul Ka'bah. Namun akhirnya Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam mengganti namanya menjadi Abdurrahman.

Ibunda Abdurrahman bin Auf adalah Asy-Syifa' binti Auf. Wanita ini telah menyatakan dirinya sebagai seorang muslimah dan juga telah melakukan hijrah.

Abdurrahman bin Auf tergolong orang yang masuk Islam pertama, yakni sebelum Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam menentukan markas dakwahnya di rumah Al Arqam. Dia telah berhijrah ke kawasan Abisina sebanyak dua kali. Abdurrahman juga berkali-kali ikut serta dalam peperangan melawan kaum kafir. Dia tetap setia bersama dengan Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam ketika perang Uhud.

Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam pernah bermakmum kepadanya ketika perang Tabuk. Ketika itu Rasulullah masih mengambil air wudhu, dan ternyata orang-orang telah mengerjakan shalat bersama dengan Abdurrahman sebanyak satu rakaat. Maka, beliau langsung bergabung dengan jama'ah shalat yang dipimpin Abdurrahman dan menyempurnakan sisa rakaat yang masih kurang. Dalam hal ini Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seorang Nabi tidak akan dicabut nyawanya sebelum bermakmum di belakang seorang laki-laki shalih dari umatnya.”

Dari Abu Salamah, dari ayahnya bahwa suatu ketika dia pernah pergi bersama dengan Nabi shallallohu 'alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallohu 'alaihi wa sallam pergi untuk buang hajat. Namun orang-orang menjumpai waktu shalat, sehingga mereka pun mengumandangkan iqamah shalat. Lalu Abdurrahman yang maju sebagai imam. Tidak lama kemudian Nabi shallallohu 'alaihi wa sallam datang dan langsung shalat bersama orang-orang di belakang Abdurrahman yang telah menunaikan satu rakaat shalat. Ketika telah melakukan salam, Rasulullah bersabda, “Kalian telah melakukan hal yang benar.” Atau dengan menggunakan redaksi, “Kalian telah melakukan hal yang baik.”
Ciri-ciri Fisik Abdurrahman bin Auf

Dia adalah seorang laki-laki yang berperawakan tinggi dan berkulit tipis. Postur tubuhnya terkesan bongkok. Warna kulitnya putih, lebih condong kemerah-merahan. Kedua telapak tangannya besar dan berhidung mancung.

Ibnu Ishaq, “Kedua gigi seri Abdurrahman telah tanggal, dan jalannya menjadi pincang karena serangan musuh pada waktu perang Uhud”. Ketika itu giginya pecah dan tubuhnya terluka sebanyak 20 lebih. Sebagian besar luka itu menimpa kakinya sehingga menyebabkannya pincang.
Putra-putri Abdurrahman bin Auf

Diantara putra Abdurrahman ada yang bernama Salim Al Akbar. Dia telah meninggal dunia sebelum masa Islam datang. Anak laki-lakinya itu berasal dari istrinya yang bernama Ummu Kultsum binti Utbah bin Rabi'ah. Abdurrahman juga memiliki putri yang lahir pada masa Jahiliyah, yang diberi nama Ummu Qasim. Ibu putrinya ini tidak lain adalah putri Syaibah bin Rabi'ah. Anak Abdurrahman yang lain adalah Muhammad, Ibrahim, Hamid, Ismail, Hamidah dan Amaturrahman. Ibu dari anak-anaknya ini bernama Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu'aith.

Anaknya yang lain lagi adalah Ma'an, Umar, Zaid, dan Amatush-Shugra. Mereka dilahirkan oleh ostrinya yang bernama Sahlah binti Ashim bin Adi. Selanjutnya Urwah Al Akbar, dia adalah anaknya yang berasal dari istrinya yang bernama Bahriyah binti Hani'. Salim Al Ashgar adalah buah hati Abdurrahman yang berasal dari istrinya yang bernama Ummu Hakim binti Qarizh. Abdullah adalah anak yang terlahir dari istrinya yang merupakan putri Abu Al Khasykhasy.

Abu Salamah –yang tidak lain Abdullah Al Ashgar– adalah anaknya dari Tudhamir binti Al Ashbagh. Abdurrahman adalah buah hatinya dengan Asma' binti Salamah. Mush'ab, Aminah dan Maryam adalah anak-anaknya dari Ummu Harits. Suhail Abu Al Abyadh adalah putranya dari Majd binti Yazid. Utsman adalah anaknya dari Ghuzal binti Kisra, seorang hamba sahaya. Urwah, Yahya dan Bilal berasal dari beberapa orang istri yang lain. Ummu Yahba adalah putrinya yang berasal dari istrinya yang bernama Zainab binti Ash-Shabah. Terakhir Juwairiyah, dia adalah putrinya dari Badiyah binti Ghailan.

Pada Waktu Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar setelah hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi' Al Anshari.

Suatu kali Sa'ad berkata kepada saudara barunya, “Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang terkaya. Aku punya dua kebun dan dua istri. Pilihlah kebun mana yang kau suka dan istri mana yang kau mau, aku akan melepaskannya agar bisa menjadi kebunmu dan istrimu.”

Abdurrahman bin Auf menolak dengan halus, “Allah memberkati harta dan keluargamu. Tapi tunjukkan saja padaku dimana letak pasar”.

Abdurrahman bin Auf berdagang di pasar Madinah. Dalam waktu yang relatif singkat dia sudah bisa memetik keuntungan dan bisa menabungnya sebagian. Ketika simpanannya telah dianggap mencukupi untuk mahar, maka dia menikah.

Usai menikah, Abdurrahman menjumpai Rasulullah. Rasulullah seger mencium wewangiannya yang semerbak sehingga beliau tanya, “Hai Abdurrahman, apakah engkau menikah?” Dia menjawab, “Benar, ya Rasulullah”. “Berapa maharmu?” tanya Rasulullah lagi. “Emas sebesar biji kurma”. Rasulullah bersabda, “Adakanlah pesta perkawinan walaupun dengan seekor kambing saja.”

Berkata Abdurrahman, “Berkat doa Nabi, maka dunia datang kepadaku, sampai-sampai kalau aku mengangkat batu, rasanya kudapati di bawahnya emas atau perak….”1)

Sewaktu perang Badar, Abdurrahman berjuang sepenuh jiwa. Dia berhasil menewaskan musah Allah, Umair bin Utsman bin Ka'ab At-Taimi.

Pada perang Uhud, dia termasuk yang tetap bertahan sementara banyak sahabat lain yang kocar-kacir. Dia keluar dari perang ini dengan membawa leih dari 20 luka. Sebagian lukanya begitu dalam sampai tangan seseorang bisa muat di dalamnya.2)

Dari Ummu Bakr binti Al Miswar bin Makhramah, dari Ayahnya, dia berkata: Abdurrahman bin Auf telah menjual sebidang tanah miliknya yang berasal dari Utsman seharga 40.000 Dinar. Lalu dia membagi-bagikan harta tersebut kepada Bani Zuhrah, orang-orang fakir kaum muslimin, dan para istri Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam. Dia juga mengirimkan harta tersebut melalui aku. Maka Aisyah berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tidak akan merasa simpati kepada kalian (para istriku) sepeninggalku nanti kecuali orang-orang yang shalih'.” Aisyah juga berkata, “Semoga Allah memberi minum Ibnu Auf dari sungai Salsabila yang berada di surga.”

Dar Az-Zuhri, dia berkata, “Abdurrahman bin Auf telah menshadaqahkan separuh harta miliknya sebanyak 40.000 pada masa Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam. Kemudian menshadaqahkan lagi hartanya sebanyak 40.000, dan kembali bershadaqah sebanyak 40.000 Dinar. Lalu di menanggung 500 kuda untuk kepentingan fi sabilillah, dan setelah itu kembali menanggung 1.500 unta untuk kepentingan fi sabilillah. Sebagian besar harta milik Abdurrahman dia peroleh dari hasil ber-bisnis.”

Dari Ja'far bin Burqan, dia berkata, “Aku pernah mendengar informasi bahwa Abdurrahman bin Auf telah memerdekakan 30.000 hamba sahaya.”

Dari Sa'ad bin Ibrahim, dari ayahnya, bahwa Abdurrahman bin Auf pernah diberi makanan. Ketika itu dia sedang berpuasa. Maka Abdurrahman berkata, “Mush'ab bin Umair telah mati terbunuh. Dia lebih baik dariku. Dia telah dikafani dengan kain bergaris yang jika dibuat menutupi bagian kepalanya, maka kedua kakinya menjadi terlihat. Namun apabil dibuat untuk menutupi kedua kakinya, maka bagian kepalanya tampak.” Aku juga melihat Abdurrahman berkata, “Hamzah telah mati terbunuh. Dia lebih baik dibandung aku. Dia tidak memiliki sesuatu pun kecuali hanya kain yang dia buat untuk mengkafani jenazahnya. Namun ternyata, harta benda duniawi telah dibentangkan kepada kami.” Atau dia berkata dengan menggunakan redaksi, “Namun harta duniawi diberikan kepada kami. Kami benar-benar khawatir kalau kebaikan kami dipercepat untuk diberikan di dunia.” Setelah itu Abdurrahman menangis sehingga dia meninggalan makanan tersebut. (HR. Bukhari)

Dari Naufal bin Iyas Al Hudzali, dia berkata, “Abdurrahman adalah teman duduk kami, dia adalah teman duduk yang paling baik. Pada suatu hari dia berpaling dari kami sampai akhirnya kami mengunjungi rumahnya. Dia ternyata telah memasuki rumahnya kemudian mandi. Lalu dia kembali keluar dan duduk bersama-sama kami lagi. Kami membawakan untuknya sebuah piring yang berisi sepotong roti dan daging. Ketika piring itu diletakkan, Abdurrahman bin Auf menangis. Maka kami berkata kepadanya, 'Wahai Abu Muhammad, apa yang membuatmu menangis?' Abdurrahman menjawab, 'Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal dunia, sedangkan beliau beserta anggota keluarganya belum pernah merasa kenyang dengan memakan roti gandum. Bukankah seandainya piring (yang berisi makanan lezat) itu tidak diberikan kepada kita, maka akan lebih baik bagi kita?'.”

Dari Ayyub, dari Muhammad, bahwa Abdurrahman bin Auf meninggal dunia dengan mewariskan logam emas yang bisa dibelah dengan kapak. Logam emas itu sampai membuat tangan beberapa orang laki-laki melepuh ketika membelahnya. Dia juga meninggalkan empat orang istri. Seorang istri mendapatkan jatah seperdelapan dari harta tersebut, yaitu senilai 30.000.
Wafatnya Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf meninggal dunia pada tahun 32 H. Jenazahnya dimakamkan di komplek pemakaman Baqi'. Dia meninggal dunia pada usia 72 tahun. Ada juga yang mengatakan usianya ketika meninggal dunia adalah 75 tahun. 3)

Ketika wafat, jenazah Abdurrahman bin Auf diangkat oleh paman Rasulullah yaitu Sa'ad bin Abi Waqash, dishalatkan oleh Amirul Mukminin Utsman bin Affan, dan diantarkan oleh Ali bin Abi Thalib. Ali berkata, “Anda telah mendapatkan kemurnian dan mendahului kepalsuan, ya Ibnu Auf. Allah telah merahmati Anda.” 4)
1) , 2) , 4) dinukil www.sohabat.org dari buku Sosok Para Sahabat Nabi, DR. Abdurrahman Ra'fat Al-Basya, cetakan I, Tahun 1996, Pustaka Mantiq,
3) dinukil www.sohabat.org dari buku Ensiklopedia Sohabat, Al Imam Ibnul Jauzi, Cetakan kedua, Tahun 1418H/1998M, Pustaka Azzam
Bola Lover
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
Continue Reading...

Saturday, May 1, 2010

Khalid ibn Al-Walid (Panglima Perang Tidak Terkalahkan) Ia selalu waspada, dan tidak membiarkan orang lengah dan alfa

Khalid ibn Al-Walid adalah salah satu jenderal Arab yang sangat dikenal di awal penaklukan Islam Abad ke-7, tercatat akan kemampuan militernya dalam memimpin pasukan-pasukan Muhammad dan dua Khulafaur Rasyidin pertama, Abu Bakr dan Umar ibn Al-Khattab. Karena ia tidak terkalahkan dalam lebih dari seratus pertempurannya melawan Imperium Romawi Timur dan Imperium Persia, ia dihormati sebagai salah satu panglima militer terbaik sepanjang masa.

Ia lahir sekitar tahun 592 M di Makkah. Khalid terlahir sebagai anggota Bani Makhzum, salah satu klan yang berpengaruh di Makkah dan berperan sebagai andalan di bidang militer. Ketika Islam pertama kali tumbuh di Makkah, ia termasuk golongan mayoritas yang sangat memusuhi Muhammad dan para pengikutnya. Ketika umat Islam Makkah berhijrah ke Madinah, beberapa pertempuran besar berlangsung antara pasukan Makkah dan pasukan Madinah. Ia terlibat dalam Pertempuran Uhud dan Pertempuran Khandaq ‘Parit’.

Untuk pertama kalinya ia mempertunjukkan keahliannya dalam bertempur pada Pertempuran Uhud. Ia menjadi panglima pasukan kavaleri kuda Makkah. Dalam kondisi pasukan Makkah yang terdesak, Khalid mampu mengubah keadaan menjadi kemenangan Makkah.

Tahun 628 M, Perjanjian Hudaybiyah disepakati. Perjanjian ini adalah perjanjian gencatan senjata antara Makkah dan Madinah. Setelah perjanjian ini, Khalid masuk Islam. Tiga tahun sejak ia masuk Islam, untuk pertama kalinya ia bergabung dalam pasukan Islam dalam pertempuran yang cukup penting, Pertempuran Mu’tah.

Dalam pertempuran ini, ia menjadi prajurit biasa bersama 3.000 pasukan Madinah lainnya menghadapi sekitar 100.000-200.000 pasukan Romawi Timur. Di tengah pertempuran yang berlangsung selama tujuh hari ini, ia ditunjuk untuk menjadi panglima karena tewasnya tiga panglima: Zayd bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Dengan perannya ini, pasukan Madinah bisa bertahan selama tujuh hari.

Ia mengubah posisi pasukan sayap kanan ke sayap kiri dan begitu juga sebaliknya. Ia lalu membariskan seluruh pasukannya dalam barisan yang amat panjang untuk memberikan kesan jumlah pasukannya lebih banyak. Ia juga memerintahkan pasukannya untuk membuat debu dan pasir beterbangan lebih dari yang seharusnya. Strateginya berjalan cukup sukses dengan timbulnya kewas-wasan dalam hati pasukan Romawi karena mengira pasukan Madinah menerima bantuan. Efek ini muncul karena mereka harus berhadapan dengan wajah baru setiap harinya. Khalid lalu dengan lebih mudah agak mengorientasikan pasukannya untuk selalu mundur sedikit demi sedikit. Pasukan Romawi mengira hal ini adalah jebakan untuk membuat mereka masuk ke gurun pasir Arab yang “kejam”. Hari ketujuh, perang berakhir dengan mundurnya kedua belah pihak. Dalam pertempuran ini, Khalid mematahkan sembilan pedangnya yang menunjukkan betapa intensifnya pertempuran antar kedua belah pihak. Karena kepemimpinannya dalam pertempuran ini juga, ia dijuluki SayfUllah ‘Pedang Allah’.

Di masa Khalifah Abu Bakr, Khalid diutus memimpin 18.000 dalam Perang Islam-Persia. Perang ini diawali oleh Khalid dengan pengiriman surat kepada Hormuz, Gubernur Persia untuk Mesopotamia. Isi suratnya sangat terkenal seperti yang dicantumkan di bawah ini.
“Masuklah dalam Islam dan kalian akan selamat. Atau bayarlah jizyah, dan Kamu serta rakyatmu akan kami lindungi, jika tidak, Kamu akan menjadi bersalah atas konsekuensinya, karena saya akan datang kepada kalian dengan orang-orang yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”
Pertempuran pun harus dilakukan karena Persia tidak mau takluk begitu saja. Empat pertempuran pertama dimenangkan pasukan Kekhalifahan Islam: Pertempuran Rantai, Pertempuran Sungai, Pertempuran Walaja, dan Pertempuran Ullais. Khalid benar-benar memanfaatkan kelemahan pasukan Persia yang sangat lambat karena beratnya persenjataan dan baju perang mereka. Dalam Pertempuran Rantai, ia “mengerjai” pasukan Hormuz dengan membuat mereka bolak-balik antara Kota Uballa dan Kota Kazima beberapa kali. Akibatnya pasukan Persia kelelahan dan Khalid pun memenangkan pertempuran pertamanya melawan Hormuz. Satu bulan kemudian, Hirah, ibukota Mesopotamia, berhasil direbut dan dalam beberapa bulan berikutnya, seluruh Mesopotamia dikuasai oleh Kekhalifahan Islam.

Setelah tugasnya usai dalam tahap pertama penaklukan Persia, ia diutus untuk memimpin pasukan khalifah di front peperangan di barat, Perang Islam-Romawi Timur. Agustus-November 634 M, Umar ibn Al-Khattab menggantikan Abu Bakr sebagai khalifah dan mengeluarkan keputusan yang mengejutkan dengan menurunkan jabatan sepupunya, Khalid, sebagai panglima tertinggi dalam penaklukan Syams. Tidak ada reaksi negatif dari dirinya. Ia terus bertempur.

Bulan Oktober 636 M, Abu Ubaydah menyerahkan kepemimpinan pasukan untuk sementara kepada Khalid sebagai panglima keseluruhan pasukan yang jumlahnya berkisar 30.000-40.000. Pasukan Romawi Timur yang datang ternyata benar-benar sesuai dengan kabar dari tawanan perang pada pertempuran sebelumnya, 150.000-240.000.

Pertempuran Yarmuk pun terjadi dan terjadilah kemenangan yang sangat menentukan dan bersejarah. Dengan membariskan pasukannya sepanjang 18 km, Khalid mengawali perang dengan strategi bertahan dan melakukan serangan balik ketika pertengahan hari. Kondisi ini terus berlangsung selama 4 hari. Pada hari kelima, pasukan Romawi mencoba membuat gencatan senjata, tetapi gagal. Pada hari keenam, Khalid mengubah strateginya menjadi penyerangan efektif. Pasukan Romawi kalah pada hari itu juga. Pertempuran Yarmuk merupakan salah satu dari contoh pertunjukan strategi militer brilian yang sangat langka di mana sejumlah pasukan dengan jumlah jauh lebih kecil mampu bertahan, bahkan menang melawan pasukan yang sangat besar jumlahnya.

Umar sekali lagi mengeluarkan kebijakan yang mengejutkan dengan memberhentikan Khalid secara total dari pasukan. Khalid dianggap terlalu berlebihan dengan memberikan ganjaran 10.000 Dirham untuk seorang penyair yang memuji dirinya. Ini dianggap sebuah pemborosan. Tahun 638 M, Khalid pun kembali ke Madinah dan secara normal agak memprotes pemberhentianny. Namun pada akhirnya, Khalid ibn Al-Walid tetap setia pada pemimpin dan agamanya. Ia menerima keputusan pemberhentiannya.

Khalid menjalani sisa kehidupannya di Kota Emesa, Syams. Ia wafat pada tahun 642 M dalam usia 50 tahun. Salah satu kalimat terakhirnya adalah sebagai berikut.
“… Dan di sini aku mati di atas tempat tidurku seperti domba yang mati. Mudah-mudahan mata orang-orang pengecut tidak akan pernah tidur!”
Pernyataannya ini menunjukkan kekecewaannya karena tidak bisa mencapai kematian di medan pertempuran yang merupakan dambaannya. Kuburannya sekarang menjadi bagian dari Masjid Khalid ibn Al-Walid.

Dalam sebuah narasi, dia memiliki bekas-bekas luka dari sejumlah sabetan pedang, tombak, dan panah hampir di semua bagian tubuhnya selain wajah. Orang-orang yang melihat luka-lukanya akan sulit menerka bagaimana ia bisa selamat dari luka-lukanya itu. Kemahirannya dalam bermain pedang dipertunjukkan dalam beberapa duel dalam pertempurannya. Dalam Pertempuran Rantai di Mesopotamia, ia membunuh Panglima Hormuz dalam duel seru yang disaksikan oleh dua belah pihak. Ia juga sangat mampu memanfaatkan pasukan berkudanya jauh lebih efektif dari musuh-musuhnya.

Rekor tidak terkalahkannya dalam pertempuran membuatnya memperoleh tempat yang hampir sejajar dengan Alexander The Great dan Subutai--salah satu panglima perang Jenghis Khan--. Ia sering sekali menggunakan beberapa taktik perang yang sangat cerdas seperti yang pernah ditulis dalam buku The Art of War karya Tsun Zu. Meskipun wilayah taklukannya tidak seluas taklukan Alexander The Great, ia tetap merupakan panglima perang terbaik di zamannya di samping Eulji Mundeok, panglima Korea yang hidup semasa dengannya.

Satu hal yang mungkin tidak bisa dimiliki oleh panglima perang lainnya adalah sifatnya yang jauh dari keangkuhan dan penuh kemurnian tujuan. Hal ini ditunjukkannya ketika menerima dengan penuh kelapangan dada kebijakan khalifahnya yang menurunkan jabatannya dan bahkan memberhentikannya dari pasukan. Sungguh sangat mungkin baginya memberontak pada khalifah karena pasukannya yang sangat mencintai diri jenderalnya. Ia hanya berkata,
“Saya tidak berperang untuk Umar.”
Bahkan yang menjadi kekesalannya ketika diberhentikan bukanlah kekesalannya yang harus kehilangan jabatan, tetapi kekesalan karena tidak bisa lagi berperang membela agamanya dan mencapai cita-citanya untuk mati di medan perang.
Bola Lover
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
Continue Reading...

Abdullah bin Rawahah (Yang bersemboyan : Wahai diri .... Jika kau tidak gugur di medan juang .... Kau tetap akan mati ... Walau di atas ranjang)

Waktu itu Rasulullah saw. sedang duduk di suatu tempat dataran tinggi kota Mekah, menghadapi para utusan yang datang dari kota Madinah, dengan bersembunyi-sembunyi dari kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari duabelas orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan nama Kaum Anshar.(penolong Rasul).

Mereka sedang dibai’at Rasul (diambil Janji sumpah setia) yang terkenal pula dengan nama Bai’ah Al-Aqabah al-Ula (Aqabah pertama). Merekalah pembawa dan penyi’ar IsIam pertama ke kota Madinah, dan bai’at merekalah yang membuka jalan bagi hijrah Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya kemudian, membawa kemajuan pesat bagi Agama Allah yaitu Islam ….Maka salah seorang dari utusan yang dibai’at Nabi itu, adalah Abdullah bin Rawahah.

Dan sewaktu pada tahun berikutnya, Rasulullah saw. membai’at. lagi tujuhpuluh tiga orang Anshar dari penduduk Madinah pada bai’at ‘Aqabah kedua, maka tokoh Ibnu Rawahah ini pun termasuk salah seorang utusan yang dibai’at itu.
Kemudian sesudah Rasullullah bersama shahabatnya hijrah ke Madinah dan menetap di sana, maka Abdullah bin Rawahah pulalah yang paling banyak usaha dan kegiatannya dalam membela Agama dan mengukuhkan sendi-sendinya. Ialah yang paling waspada mengawasi sepak terjang dan tipu muslihat Abdulla bin Ubay (pemimpin golongan munafik) yang oleh penduduk Madinah telah dipersiapkan untuk diangkat menjadi raja sebelum Islam hijrah ke sana, dan yang tak putus-putusnya berusaha menjatuhkan Islam dengan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada. Berkat kesiagaan Abdullah bin Rawahah yang terus-menerus mengikuti gerak-gerik Abdullah bin Ubay dengan cermat, maka gagalah usahanya, dan maksud-maksud jahatnya terhadap Islam dapat di patahkan.

Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka degan kepandaian tulisi baca. Ia juga seorang penyair yang lancar, untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan indah didengar ….
Semenjak ia memeluk Islam, dibaktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam …..Dan Rasullullah menyukai dan menikmati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun lagi membuat syair.

Pada suatu hari, beliau duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah, lalu Nabi bertanya kepadanya: “Apa yang anda lakukan jika anda hendak mengucapkan syair?”
Jawab Abdullah: “Kurenungkan dulu, kemudian baru kuucapkan”. Lalu teruslah ia mengucapkan syairnya tanpa bertangguh, demikian kira-kira artinya secara bebas:
“Wahai putera Hasyim yang baik, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia.dan memberimu keutamaan, di mana orang tak usah iri.

Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini terhadap dirimu. Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka.
Seandainya anda bertanya dan meminta pertolongan mereka dan memecahkan persoalan tiadalah mereka henhak menjawab atau membela
Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang anda,bawa
Sebagaimana Ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa”.
Mendengar itu Rasul menjadi gembira dan ridla kepadanya, lalu sabdanya: “Dan engkau pun akan diteguhkan Allah”.

Dan sewaktu Rasulullah sedang thawaf di Baitullah pada ‘umrah qadla, Ibnu Rawahah berada di muka beliau sambil membaca syair dari rajaznya:
“Oh Tuhan, kalauIah tidak karena Engkau, niscaya tidaklah ami akan mendapat petunjuk, tidak akan bersedeqah dan Shalat!
Maka mohon diturunkan sakinah atas kami dan diteguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang.
,Sesuhgguhnya Qrang-orang yang telah aniaya terhadap kami, biIa mereka membuat fitnah akan kami tolak dan kami tentang”.

Orang-orang Islam pun sering mengulang-ulangi syair-syairnya yang indah.
Penyair Rawahah yang produktif ini amat berduka sewaktu turun ayat al-Quranul Karim yang artinya :
“Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat”. (Q.S. Asy-syu’ara: 224)

Tetapi kedukaan hatinya jadi terlipur waktu turun pula ayat lainnya : Artinya :
“Kecuali orang-orang(penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya”. (Q.S. Asy-syu’ara : 227)

Dan sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri, tampillah Abdullah ibnu Rawahah membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qashidahnya menjadi slogan perjuangan:
“Wahai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, tetapi engkau pasti akan mati juga!”
Ia juga menyorakkan teriakan perang:
“Menyingkir kamu, hai anak-anak kafir dari jalannya. Menyingkir kamu setiap kebaikkan akan ditemui pada Rasulnya”.

Dan datanglah waktunya perang Muktah ….Abdullah bin Rawahah adalah panglima yang ketiga dalam pasukan Islam.
Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukkan Islam yang berangkat meninggalkan kota Madinah …ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya;

” Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk lututnya angkatan perang syetan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan ….. Mati syahid di medan perang…!!”
Benar, itulah cita-citanya kemenangan dan hilang terbilang …., pukulan pedang atau tusukan tombak, yang akan membawanya ke alam syuhada yang berbahagia…!!
Balatentara Islam maju bergerak kemedan perang muktah. Sewaktu orang-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya balatentara Romawi sekitar duaratus ribu orang …, karena menurut kenyataan barisan tentara mereka seakan tak ada ujung alhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya ….!

Orang-orang Islam melihat jumlahmereka yang sedikit, lalu terdiam …dan sebagian ada yang menyeletuk berkata:
“Baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jurnlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi”.
Tetapi.Ibnu Rawahah,.bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap:
“Kawan:kawan sekalian! Demi Ailah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah Kita tidak memerangi memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah … !
Ayohlah kita maju ….! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenagan atau syahid di jalan Allah … !”

Dengan bersorak-sorai Kaum Muslimin yang sedikit bilangannya tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak: “Sungguh, demi Allah, benar yang dibilang Ibnu Rawahah.. !”
Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya.
Kedua pasukan, balatentara itu pun bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran di antara keduanya.
Pemimpin yang pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid yang mulia, disusul oleh pemimpin yang kedua Ja’far bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kesabaran, dan menyusl pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah. Dikala itu ia memungut panji perang dari tangan kananya Ja’far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan Islam yang kecil itu, tersapu musnah diantara pasukan-pasukan Romawi yang datang membajir laksana air bah, yang berhasil dihimpun oleh Heraklius untuk maksud ini.

Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu Rawahah ini menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat kehebatan tentara romawi seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru:

“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga …..
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …….
Tibalah waktunya apa yng engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!”

(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).
Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati…..!” Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya …… Kalau tidaklah taqdir Allah yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke syurga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka …. Tetapi waktu keberangkatan sudah tiba, yang memberitahukan awal perjalananya pulang ke hadirat Allah, maka naiklah ia sebagai syahid…..
Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya:
“Hingga dikatakan, yaitu bila mereka meliwati mayatku:
Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah, dan benar ia telah terpimpin!”
“Benar engkau, ya Ibnu Rawahah….! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah…..!”
Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’ di Syam, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sedang duduk beserta para shahabat di Madinah sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi ter;liam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatu disebabkan rasa duka dan belas kasihan … ! Seraya memandang berkeliling ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata: “Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid ….. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula ….”. Be!iau berdiam sebentar, lain diteruskannya ucapannya: “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia·pun syahid pula”.
Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula : “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga …”
Perjalanan manalagi yang lebih mulia …….
Kesepakatan mana lagi yang lebih berbahagia …….
Mereka maju ke medan laga bersama-sama …….
Dan mereka naik ke syurga bersama-sama pula ….
Dan penghormatan terbaik yang diberikan untuk mengenangkan jasa mereka yang abadi, ialah ucapan Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam yang berbunyi :
“Mereka telah diangkatkan ke tempatku ke syurga……



Bola Lover
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
Continue Reading...

Ja'far Bin Abi Thalib (Jasmani maupun perangainya mirip Rasulullah)

Di kalangan Bani Abdi Manaf ada lima orang yang sangat mirip dengan Rasulullah saw. sehingga seringkali orang salah menerka. Mereka itu adalah:

Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthallib, anak paman Nabi saw. sekaligus sebagai saudara sesusuannya.

Qutsam Ibnul Abbas bin Abdul Muthallib, anak paman Nabi saw.

Saib bin Ubaid bin Abdi Yazin bin Hasyim, kakek Syafi'i r.a.

Ja'far bin Abi Thalib, yaitu saudara Ali bin Abi Thalib.

Hasan bin Ali Bin Abi Thalib, cucu Rasulullah saw. Beliau ini paling mirip dengan Nabi saw. di antara mereka berlima.

Marilah sekarang kita melihat sisi kehidupan Ja'far bin Abi Thalib. Abi Thalib termasuk bangsawan Quraisy dan mempunyai kedudukan terpandang dalam masyarakat. Namun, kehidupannya susah dan tanggungannya banyak. Ia pernah mengalami keadaan sangat kritis saat kemarau panjang. Tanaman mati karena kekeringan dan banyak orang terpaksa memakan bangkai. Di saat paceklik seperti ini, biasanya tidak ada yang menaruh perhatian untuk meringankan beban Abu Thalib di kalangan Bani Hasyim selain Abbas dan Muhammad bin Abdullah.

Muhammad berkata kepada Abbas, "Wahai paman, saudara paman (yaitu Abu Thalib) memiliki tanggungan yang sangat banyak. Sebagaimana yang paman saksikan, seluruh masyarakat kini sedang ditimpa musibah berupa kemarau panjang dan paceklik yang mengakibatkan banyak orang kelaparan. Marilah kita pergi ke rumah Abu Thalib, saudara paman. Kita ambil alih sebagian tanggungannya untuk meringankan beban keluarganya. Aku mengambil anaknya seorang, dan paman mengambil pula anaknya yang lain. Agaknya dengan begitu, cukup besar artinya untuk meringankan bebannya."

Abbas berkata, "Usulmu sangat bagus. Engkau betul-betul membangunkanku untuk kebajikan. Marilah kita pergi."

Mereka pun pergi ke rumah Abu Thalib. Lalu berkata, "Kami datang hendak meringankan beban Anda yang berat. Izinkanlah kami membawa sebagaian anak-anakmu tinggal bersama kami sampai masa sulit yang mencekam seluruh masyarakat ini reda kembali."

Abu Thalib berkata, "Boleh saja, asal kalian tidak membawa Aqil." Aqil adalah anak laki-laki Abu Thalib yang tertua.

Muhammad bin Abdullah mengambil Ali bin Abi Thalib lalu digabungkannya dalam keluarganya. Sedangkan Abbas membawa Ja'far bin Abi Thalib dan digabungkannya pula dalam keluarganya. Ali tetap tinggal bersama Muhammad bin Abdullah sampai Allah mengutusnya menjadi rasul dengan agama yang hak. Dan, Ali tercatat sebagai pemuda yang pertama-tama masuk Islam.

Sementara Ja'far tinggal bersama paman Abbas hingga ia dewasa, lalu dia masuk Islam, dan tidak memerlukan bantuan Abbas lagi. Ja'far dan istrinya, Asma' bin Umais, menerjunkan dirinya dalam kendaraan Islam sejak dari awal. Keduanya menyatakan Islam di hadapan Abu Bakar Shiddiq r.a. sebelum Rasulullah saw. masuk ke rumah Al-Arqam. Pasangan suami istri Bani Hasyim yang muda belia ini tidak luput pula dari penyiksaan kaum kafir Quraisy, sebagaimana yang diderita kaum muslimin yang pertama-tama masuk Islam.

Tetapi, suami istri ini bersabar menerima segala cobaan yang menimpanya, karena mereka tahu jalan ke surga bertabur duri dengan segala macam kesulitan dan kepedihan. Tetapi yang merisaukan mereka berdua adalah kaum Quraisy membatasi geraknya untuk menegakkan syiar Islam dan melarangnya untuk merasakan kelezatan ibadah. Karena itu, kaum Quraisy senantiasa mengamati gerak-gerik keduanya. Maka, Ja'far bin Abi Thalib beserta istrinya memohon izin kepada Rasulullah saw. untuk hijrah ke Habasyah bersama-sama dengan para sahabat lainnya. Dengan sedih hati Rasulullah saw. mengizinkannya. Sebaliknya, mereka dengan amat berat meninggalkan kampung halaman tempat mereka bermain pada waktu kecil dan waktu muda, tanpa suatu dosa yang mencemarkan, kecuali karena mereka mengucapkan kata-kata "Rabbunallaah" (Rab kami hanyalah Allah). Namun, mereka tidak berdaya untuk menangkis siksaan dan tekanan kaum Quraisy.

Kendaraan kaum muhajirin yang pertama-tama berangkat ke Habasyah di bawah pimpinan Ja'far bin Abi Thalib r.a. Mereka merasa lega di bawah perlindungan Najasyi, Raja Habasyah yang adil dan saleh. Sejak mereka masuk Islam itulah, mereka baru merasa aman, dapat menikmati kemanisan agama yang mereka anut, bebas dari rasa cemas dan ketakutan yang mengganggu dan yang menyebabkan mereka hijrah.

Namun, tidak berapa lama setelah kaum Quraisy mengetahui rombongan kaum muslimin yang hijrah ke Habasayah dan mendapat perlindungan raja Najasyi, dapat melaksanakan dinnya dengan tenang dan aman, kaum Quraisy pun terkejut dan khawatir. Mereka kemudian berunding untuk membunuh kaum muhajirin itu atau meminta mereka agar dimasukan penjara. Untuk itu marilah kita dengarkan Ummu Salamah (salah seorang muhajirat) menceritakan kisah nyata yang dilihat dan didengarnya sendiri.

Ummu Salamah berkata, "Manakala kami tiba di Habasyah, kami disambut dan bertemu dengan tetangga yang baik. Kami dapat melaksanakan agama kami dengan aman, dan beribadah kepada Allah tanpa mendapatkan siksaan atau gangguan yang tidak diinginkan.

Ketika kaum Quraisy mendengar berita tentang keadaan kami lebih baik, mereka segera berunding untuk mengacaukan kami. Lalu mereka mengutus dua orang diplomat ulung kepada Raja Najasyi, yaitu Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabiah dengan membawa persembahan sejumlah hadiah besar untuk Najasyi pribadi, dan untuk para pemuka agama (pendeta) mereka berupa barang-barang mewah dan antik dari Hijaz. Namun, mereka memutuskan untuk tidak memberikan kepada raja terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada para pendeta.

Tatkala kedua utusan itu tiba di Habasyah, mereka terlebih dahulu menemui pemuka agama yang terdekat dengan Najasyi dan memberikan hadiah untuk mereka. Kedua utusan itu berkata, "Telah datang ke negeri Anda, orang-orang bodoh kami. Mereka mengingkari agama nenek moyang dan memecah belah persatuan bangsa. Bila nanti kami berbicara dengan baginda raja, kami harap tuan-tuan dapat menolong kami supaya baginda raja sudi menyerahkan mereka kepada kami, tanpa menanyakan masalah agama, karena pemimpin rombongan mereka sangat pandai berbiara dan mengerti tentang agama yang mereka yakini."

"Baiklah," jawab pendeta itu.

Ummu Salamah meneruskan ceritanya, "Namun, apa yang mereka khawatirkan justru itulah yang terjadi. Raja Najasyi memangil salah seorang kami untuk didengar keterangannya."

Kedua utusan Quraisy menghadap Raja Najasyi dengan membawa persembahan bermacam-macam dan hadiah yang tak ternilai harganya. Baginda raja memuji dan mengagumi persembahan mereka.

Utusan Quraisy berkata, "Wahai paduka raja telah datang ke negara paduka orang-orang jahat bangsa kami. Mereka datang dengan membawa agama yang tidak pernah kami kenal dan juga belum pernah paduka kenal. Mereka keluar dari agama nenek moyang kami, tetapi tidak pula masuk ke dalam agama paduka. Kami diutus oleh bapak-bapak dan segenap famili untuk menjemput dan membawa mereka kembali pulang, mereka sangat pandai mengada-ada dan membuat fitnah.

Najasy melihat kepada para pendeta yang berada di sampingnya. Lalu mereka berkata, "Apa yang disampaikan kedua utusan itu memang benar, wahai paduka. Orang yang sebangsa dengan kaum pelarian itu lebih mengeri dan tahu tentang kejahatan mereka. Karena itu sebaiknyalah kaum pelarian itu dikembalikan saja kepada mereka. Terserah kepada mereka apa yang akan diperbuat sesudah itu."

Baginda raja marah mendengar jawaban dari para pendeta. "Tidak...! Demi Allah...! tidak seorang pun dari mereka akan saya serahkan sebelum saya memanggil mereka dan meminta keterangannya tentang tuduhan yang diberikan kepada mereka. Jika benar mereka orang jahat sebagaimana yang dituduhkan, maka mereka akan saya serahkan. Tetapi, jika tuduhan itu palsu, mereka akan saya lindungi dan akan saya jadikan tetanggaku yang baik selama mereka menghendaki," ucap Najasyi.

Selanjutnya, kata Ummu Salamah, "Najasyi memangil kami untuk menghadap kepadanya. Sebelum menghadap, terlebih dahulu kami bermusyawarah. Sebagian kami berkata, "Kita dipanggil menghadap baginda raja untuk diminta keterangannya tentang agama kita. Karena itu, kita tentukan saja seorang juru bicara untuk menjelaskan kepada beliau. Pilihan mereka jatuh kepada Ja'far bin Abi Thalib dan yang lainnya tidak diijinkan untuk berbicara."

Sesudah membuat keputusan, kami pergi menghadap baginda Raja Najasyi. Di dalam majlis raja telah hadir para pendeta pemuka agama. Mereka duduk di kanan kiri baginda. Masing-masing memakai pakaian kebesarannya, lengkap dengan jubah, kopiah dan memegang sebuah kitab di tangan mereka. Di samping para pendeta, kami melihat pula Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabiah.

Setelah duduk dengan tenang di dalam majlis, baginda raja menoleh kepada kami dan berkata, "Agama apakah yang tuan-tuan anut, sehingga tuan-tuan keluar dari agama bangsa tuan-tuan, tetapi tidak pula masuk ke dalam agama kami atau agama-agama lain yang telah ada?"

Maka tampillah Ja'far bin Abi Thalib menjawab, "Wahai paduka raja, dahulu kami memang bangsa yang bodoh. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, berzina, mengerjakan segala pekerjaan keji, saling bermusuhan, tidak mempedulikan tetangga, dan yang kuat selalu memakan yang lemah. Begitulah keadaan kami dahulu sebelum Allah mengutus Rasul-Nya kepada kami. Kami mengenal benar kepribadian Rasul Allah itu. Turunnya, kebenaran setiap kata yang diucapkannya, kejujurannya, kesucian pribadinya yang tidak sedikit jua pun ternoda, dan seterusnya. Dia mengajak kami supaya memeluk agama Allah, mengesakan Allah, beribadah semata-mata kepada-Nya dan supaya meninggalkan agama kami yang lama, yaitu agama nenek moyang kami yang menyembah batu dan berhala. Bahkan dia menyuruh kami agar selalu berbicara benar, senantiasa memegang amanah, menghubungkan sillahturrahmi, bersikap baik kepada tetangga, menghentikan segala perbuatan terlarang, dan petumpahan darah.

Dia juga melarang kami berzina dan melakukan segala perbutan keji, mengucapkan kata-kata kotor, memakan harta anak yatim, menuduh wanita baik-baik berbuat serong. Dia menyuruh kami beribadah kepada Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain-lain. Dia menyuruh kami menegakkan salat, membayar zakat, dan puasa bulan Ramadahan. Kami menerima bak segala perintah dan larangannya. Kami percaya sungguh kepadanya. Dan, kami patuhi segala yang diajarkan Allah kepadanya. Maka kami halalkan segala yang dikatakannya halal dan kami haramkan segala yang dikatakannya haram. Tetapi, wahai paduka raja! Sebagian bangsa kami memusuhi kami karenanya. Mereka menyiksa kami dengan siksaan berat agar kami keluar dari agama yang kami anut itu dan kembali kepada agama lama yang menyembah berhala. Maka tatkala penganiayaan dan penyiksaan mereka terhadap kami sudah demikian memuncak dan kami dihalang-halangi untuk terus melaksanakan ajaran agama kami, lalu kami keluar dari negeri kami dan memilih negeri paduka sebagai tempat kami mengungsi. Karena kami yakin paduka adalah tetangga yang baik dan tidak akan berlaku zalim kepada kami."

Najasyi berkata kepada Ja'far, "Dapatkah Anda membacakan salah satu ayat yang diajarkan Allah kepada nabi Anda?"

Ja'far menjawab, "Ya, tentu."

Najasyi berkata, "Coba bacakan kepada saya."

Ja'far membaca surat Maryam 1-4, yang artinya, "Kaaf Haa Yaa' 'Ain Shaad. Mengingat rahmat Rabmu kepada hamba-Nya Zakariya. Ketika ia berseru kepada Rabnya dengan suara perlahan-lahan. Dia berdo'a, "Wahai Rabku, sesungguhnya tulangku sudah lemah, dan kepalaku sudah beruban, dan aku belum pernah beruntung (bila) memohon kepada Engkau, wahai Rabku."

Baru saja Ja'far selesai membacakan ayat-ayat permulaan surat tesebut, Najasyi menangis sehingga jenggotnya basah oleh air mata. Begitu pula para pastor turut menangis sehingga kitab di tangan mereka basah demi mendengar kalam Allah tersebut.

Najasyi berkata kepada kami, "Sesungguhnya agama yang dibawa nabi tuan-tuan dan agama yang dibawa Nabi Isa berasal dari satu sumber."

Kemudian dia berpaling kepada Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabiah seraya berkata, "Pergilah kalian, demi Allah, saya tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian selama-lamanya."

Ummu Salamah selanjutnya berkata, "Ketika kami keluar dari majlis Najasyi, Amr bin Ash mengancam kami. Dia berkata kepada temannya, Abdullah bin Rabiah, "Demi Allah, besok akan saya datangi baginda raja. Akan saya katakan kepada baginda ucapan orang-orang ini yang pasti akan membuat hati baginda raja marah dan benci kepada mereka. Akan saya sebutkan kepada baginda secara tuntas kebusukan-kebusukan hati orang-orang ini."

"Ah, jangan! Bukankah mereka ini karib kerabat kita juga, sekalipun mereka berselisih paham dengan kita," kata Abdullah bin Rabiah.

Amr bin Ash berkata, "Biar saja, demi Allah, akan saya ceritakan kepada baginda besok. Demi Allah, akan saya ceritakan kepada baginda, bahwa orang-orang ini mengatakan Isa bin Maryam adalah hamba sahaya."

Keesokan harinya Amr bin Ash menghadap Raja Najasyi dan berkta, "Wahai paduka raja, orang-orang yang paduka lindungi memandang rendah Isa bin Maryam. Cobalah paduka panggil lagi dan bertanya kepada mereka."

Ummu Salamah melanjutkan ceritanya, "Setelah mengetahui tindakan Amr itu kami sungguh terpana. Kami tidak berpendirian begitu, jangankan pula untuk mengucapkan kata-kata yang menghina Nabi Isa bin Maryam. Lalu kami bermusyawarah tentang jawaban apa yang paling tepat mengenai persoalan itu, jika nanti baginda raja menanyakannya. Kami sepakat, "Demi Allah, kita tidak akan memberi jawaban melainkan dengan firman Allah. Kita tidak boleh keluar seujung kuku pun dari ajaran Nabi kita, dan harus senantiasa begitu."

Kemudian menunjuk kembali Ja'far bin Abi Thalib menjadi juru bicara. Ketika dipanggil baginda raja, kami pun datang menghadap. Kami dapati para pastor telah hadir seperti kemarin. Di samping mereka terlihat pula Amr bin Ash dan kawannya. Segera kami duduk di hadapan baginda, lalu ia bertanya kepada kami, "Bagaimana pendapat tuan-tuan tentang Isa bin Maryam?"

Ja'far berkata, "Kami mempercayainya sebagaimana diajarkan nabi kami."

Najasyi berkata, "Bagaimana ajaran nabi tuan-tuan mengenai beliau."

Ja'far menjawab, "Beliau bersabda, "Sesungguhnya Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, ruh-Nya, dan firman-Nya yang ditujukan kepada Maryam yang senantiasa perawan suci."

Mendengar jawaban Ja'far itu, Najasyi menepukkan tangannya ke lantai seraya berkata, "Demi Allah tidak berbeda seujung rambut pun ajaran Isa bin Maryam dengan ajaran nabi tuan-tuan."

Para pastor bernafas panjang, sebagai protes terhadap ucapan Najasyi. Lalu Najasyi berkata kepada para pendeta, "Sekalipun kalian mencemooh, pergilah kalian! Kalian percaya terhadap orang-orang yang telah menyogok dan mendatangkan malapetaka pada kalian. Demi Allah, saya tidak suka menerima emas walaupun sebesar gunung, tetapi mencelakai salah seorang kamu dengan suatu kejahatan. Kemudian Najasyi menengok kepada Amr bin Ash dan kawannya seraya berkata, "Kembalikan semua hadiah-hadiah yang dipersembahkan kedua orang ini, saya tidak butuh persembahan mereka."

Ummu Salamah melanjutkan ceritanya, "Amr bin Ash dan kawannya keluar dengan hati berkeping-keping dan sangat kecewa. Dia kalah total, mendapat kegagalan dan kekecewaan yang memalukan. Dan kami dibolehkan tetap tinggal di sisi Najasyi, di negeri yang baik dan penduduk yang berhati mulia pula."

Ja'far bin Abi Thalib beserta istri tinggal dengan aman dan tenang dalam perlindungan Najasyi yang ramah tamah itu selama sepuluh tahun.

Pada tahun ke tujuh hijrah, kedua suami isteri itu meninggalkan Habasyah dan hijrah ke Yatsrib. Kebetulan Rasulullah saw. baru saja pulang dari Khaibar. Beliau sangat gembira bertemu dengan Ja'far sehingga karena kegembiraannya beliau berkata, "Aku tidak tahu mana yang menyebabkan aku gembira, apakah karena kemenangan di Khaibar atau karena kedatangan Ja'far?"

Begitu pula kaum muslimin umumnya, terlebih fakir miskin, mereka juga bergembira dengan kedatangan Ja'far. Ja'far sangat penyantun dan banyak membela golongan duafa, sehinga dia digelari Abil Masakin (bapak orang-orang miskin).

Abu Hurairah bercerita tentang Ja'far. Ia berkata, "Orang yang paling baik kepada kami (golongan orang-orang miskin) ialah Ja'far bin Abi Thalib. Dia sering mengajak kami makan di rumahnya, lalu kami makan apa yang ada. Bila makanannya sudah habis, diberikannya kepada kami pancinya, lalu kami habiskan sampai dengan kerak-keraknya."

Belum begitu lama Ja'far tinggal di Madinah, pada awal tahun kedelapan hijriah Rasululalh saw. menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Rum di Muktah. Beliau mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi komandan pasukan.

Rasululalh saw. bersabda, "Jika Zaid tewas atau cidera, komandan digantikan Ja'far bin Abi Thalib. Seandainya Ja'far tewas atau cidera pula, dia digantikan Abdullah bin Rawahah. Dan, apabila Abdullah bin Rawahah cidera atau gugur pula, hendaklah kaum muslmin memilih pemimpin/komandan di antara mereka. "

Setelah pasukan sampai di Muktah, yaitu sebuah kota dekat Syam dalam wilayah Yordan, mereka mendapati tentara Rum telah siap menyambut kedatangan mereka dengan kekuatan 100.000 pasukan inti yang terlatih, berpengalaman, dan membawa persenjataan lengkap. Pasukan mereka juga terdiri dari 100 ribu milisi Nasrani Arab dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam, Qudha'ah, dan lain-lain. Sementara, tentara kaum muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah hanya berkekuatan 3000 tentara.

Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang itu berhadap-hadapanan, pertempuran segera berkobar dengan hebatnya. Zaid bin Haritsah gugur sebagai syuhada ketika dia dan tentaranya sedang maju menyerbu ke tengah-tengah musuh.

Melihat Zaid jatuh, Ja'far segera melompat dari punggung kudanya yang kemerah-merahan, lalu dipukulnya kaki kuda itu dengan pedang, agar tidak dapat dimanfaatkan musuh selama-lamanya. Kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda pimpinan kini beralih kepadanya. Dia maju ke tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya. Akhirnya musuh dapat mengepung dan mengeroyoknya. Sementara dia bersenandung menyanyikan sajak nan indah

Wahai ... surga nan nikmat sudah mendekat

Minuman segar, tercium harum

Tetapi engkau Rum ... Rum....

Menghampiri siksa

Di malam gelap gulita, jauh dari keluarga

Tugasku ... menggempurmu ..

Ja'far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kiri dengan hebat. Suatu ketika tangan kanannya terkena sabetan musuh sehingga buntung. Maka dipegannya bendera komando dengan tangan kirinya. Tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Dia tidak gentar dan putus asa. Dipeluknya bendera komando ke dadanya dengan kedua lengan yang masih utuh. Tetapi, tidak berapa lama kemudian, kedua lengannya tinggal sepertiga saja dibuntung musuh. Secepat kilat Abdullah bin Rawahah merebut bendera komando dari komando Ja'far bin Abi Thalib. Pimpinan kini berada di tangan Abdullah bin Rawahah, sehingga akhirnya dia gugur pula sebagai syuhada', menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid lebih dahulu.

Rasulullah saw. sangat sedih mendapat berita ketiga panglimanya gugur di medan tempur. Beliau pergi ke rumah Ja'far bin Abi Thalib anak pamannya. Didapatinya Asma', isteri Ja'far, sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya. Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak, memandikan dan memakaikan baju mereka yang bersih.

Asma' bercerita, "Ketika Rasulullah mengunjungi kami, terlihat wajah beliau diselubungi kabut sedih. Hatiku cemas, tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk. Beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami.

Beliau berkata, "Mana anak-anak Ja'far, suruh mereka ke sini."

Maka kupanggil mereka semua dan kusuruh menemui Rasulullah saw. Anak-anak berlompatan kegirangan mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman kepada beliau. Beliau menengkurapkan mukanya kepada anak-anak sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir membasahi pipi mereka. Saya bertanya, "Ya Rasulullah, demi Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Ja'far dan kedua sahabatnya?"

Beliau menjawab, "Ya ..., mereka telah syahid hari ini." Mendengar jawaban beliau, maka reduplah senyum kegirangan di wajah anak-anak, apalagi setelah mendengar ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat masing-masing, seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka. Rasulullah berucap sambil menyeka air matanya,

"Wahai Allah, gantilah Ja'far bagi anak-anaknya ... wahai Allah, gantilah Ja'far bagi isterinya." Kemudian kata beliau selanjutnya, "Aku melihat sungguh Ja'far berada di surga. Dia mempunyai dua sayap berlumuran darah dan bertanda di kakinya." Wallahua'lam.(ar/oq).

Seorang penyair Islam terkemuka yang benama Hassan bin Tsabit tampil dengan syairnya mengenang kepergian Ja'far dan sahabat-sahabatnya.
“Maju memimpin pasukan orang beriman
Menjemput kematian mengharap redha Tuhan
Putera bani Hasyim yang bersinar bak cahaya rembulan
Menyelak setiap kegelapan
Menebas setiap penyerang
Lalu syahid sebagai pahlawan
Syurga menanti sebagai imbalan
Sejuk segar seisi taman

Ja'far dan Muhammad ada kemiripan
Tegas dan menjadi tumpuan kepercayaan
Selama ada dari keturunan Hasyim seorang pejuang
Pasti Islam akan tetap menjadi panucan"

Lalu disusul oleh penyair lain yang bernama Ka'ab bin Malik,
"Kemuliaan untuk para pahlawan Mu'tah
Saling berdampingan dan tak tergoyahkan
Redha Allah atas mereka, para pemuda gagah perkasa
Curahan rahmat membasuh tulang-belulang mereka
Tabah dan sabar, demi Tuhan rela mempertaruhkan nyawa
Tak kenal mundur, menghalau setiap bahaya
Bendera pasukan di tangan Ja'far sang panglima
Menambah semangat tempur bagi setiap pejuang
Perang terus berjalan tak kenal lelah
Akhimya, Ja'far menemukan kesyahidan
Rembulan serasa kehilangan
Dan matahari enggan menampakkan sinar"
Orang-orang beriman dari kalangan miskin, menangisi kepergian Ja'far kerana Ja'far adalah "Sang Penyantun kepada Orang-orang Miskin". Abu Hurairah pemah berkata, "Yang paling penyantun kepada orang- orang miskin adalah Ja'far."



Bola Lover
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis
Continue Reading...
Recent Comment Recent Posting
 
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Blog Directory Geo Visitors Map
IQRO ONLINE Copyright © 2010 by Mustain Alibasya | Profile | RSS | Counter Powered by  RedCounter | | | | | |